Renungan pagi :
"Sungguh (ketika) aku bermaksiat kpdNYA, maka aku melihat (pengaruh buruk) perbuatan maksiat tsb pd tingkah laku istriku…"(Ibnul Qayyim dlm kitab Ad-Da-u wad Dawaa')
Brgsp yg mengharapkan cinta & kasih sayangnya thd klgnya kekal abadi di dunia & di akhirat nanti, maka hendaknya dia melandasi cinta & kasih sayangnya krn Allah semata, serta mengisinya dg saling menasehati & menolong dlm ketaatan kpd-Nya. Allah Ta'ala berfirman,
"Org2 yg berkasih sayang pd waktu itu (di akhirat) menjadi musuh satu sama lainnya, kecuali org2 yg bertaqwa." (QS Az-Zukhruf: 67)
Ayat ini menunjukkan bhw semua jalinan cinta & kasih sayang di dunia yg bkn karena Allah maka di akhirat nanti berubah menjadi kebencian & permusuhan, & yg kekal abadi hanyalah jalinan cinta & kasih sayang karena-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/170)
Dg melaksanakan perintah Allah ini seorg hamba -dg izin Allah Ta'ala- akan melihat pd diri istri & anak2nya kebaikan yg akan menyejukkan pandangan matanya & menyenangkan hatinya. Dan ini merupakan harapan setiap org beriman yg menginginkan kebaikan bagi diri & keluarganya. Oleh karena itulah, Allah Ta'ala memuji hamba2-Nya yg bertakwa ketika mrk mengucapkan doa sbgmn firman-Nya,
"Dan (mrk adalah) org2 yg berdoa: "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kpd kami isteri2 & keturunan kami sbg penyejuk (pandangan) mata (kami), & jadikanlah kami pemimpin bagi org2 yg bertakwa." (QS Al Furqan: 74)
Imam Hasan al-Bashri saat ditanya ttg makna ayat tsb, beliau berkata: "Allah akan memperlihatkan kpd hambaNya yg beriman pd diri istri, saudara & org2 yg dicintainya ketaatan (mrk) kpd Allah. Demi Allah, tdk ada sesuatu pun yg lbh menyejukkan pandangan mata seorg muslim drpd saat dia melihat anak,cucu,saudara & orang2 yg dicintainya taat kpd Allah Ta'ala." (Tafsir Ibnu Katsir, 3/439)
Mari kita mulai aktifitas hari ini dg berdoa kpd Allah agar Dia selalu melimpahkan taufik-Nya kpd kita semua dlm menjalankan perintah-Nya & menjauhi larangan-Nya. AminO:)
Sent from BlackBerry® on 3
Selasa, 11 Oktober 2011
Senin, 10 Oktober 2011
Pemilik hidup
Ada berbagai kesadaran dalam menanggapi berbagai permasalahan dalam hidup. Misalnya takut naik pesawat maka kembalikanlah pada kesadaran bahwa 'sang pemilik hidup' adalah Allah.
Allah adalah pemilik hidup "saat ini", bukan kita, pemilik hidup "saat nanti", Allah maha berkehendak. Apakah Allah suka kpd manusia yg mengaku "hidup adalah milik dia?"... Pasrahkanlah pada kekuatan dan kemauan Allah. Dalam kepasrahan tersebut terletak bentuk kesadaran hakiki atas kelayakan manusia bersikap, semoga kelayakan tsb disukai dan dicintai Allah sbg TuhanNya.
Jatuhkanlah diri dalam perasaan "jika detik ini saya hidup di dunia adalah kesempatan" bagi saya utk bernafas, dan kesempatan bagi saya utk membuktikan keberserahan diri saya, serta "detik nafas di akhirat "nanti" adalah kesempatan" bagi saya utk hidup dalam ketentuan sang pemilik sebenarnya, maka mulailah berpikir utk selalu "memohon ampun" dan "berserah diri dalam ketidakpunyaan apa apa", sehingga selalu merespon setiap yg menimpa dengan respon "selayaknya manusia", sebagaimana yg diajarkan Al Quran dan yg di contohkan Rasulullah saw.
Berpikirlah dari sisi keabadian alam akhirat dimana Allah adalah sang pemilik hari pembalasan. Itulah keMaha Adilan sang Pencipta, keMaha Kasih sayangan Allah, tidak ada niat Allah utk menyakiti hambanya. Maka pandanglah segala ketakutan hidup ini dari sisi akhirat, bahwa sang Pemilik menginginkan apa terhadap manusia yg tdk memiliki apa apa.
Terakhir.... Selalu ingatlah bahwa nafas kita saat ini adalah waktu dan kesempatan kita untuk membuktikan "keberserahan diri kita", karena selayaknya itulah sikap manusia yg hakiki dan selayaknya manusia bersikap pada Tuhannya.
Allah adalah pemilik hidup "saat ini", bukan kita, pemilik hidup "saat nanti", Allah maha berkehendak. Apakah Allah suka kpd manusia yg mengaku "hidup adalah milik dia?"... Pasrahkanlah pada kekuatan dan kemauan Allah. Dalam kepasrahan tersebut terletak bentuk kesadaran hakiki atas kelayakan manusia bersikap, semoga kelayakan tsb disukai dan dicintai Allah sbg TuhanNya.
Jatuhkanlah diri dalam perasaan "jika detik ini saya hidup di dunia adalah kesempatan" bagi saya utk bernafas, dan kesempatan bagi saya utk membuktikan keberserahan diri saya, serta "detik nafas di akhirat "nanti" adalah kesempatan" bagi saya utk hidup dalam ketentuan sang pemilik sebenarnya, maka mulailah berpikir utk selalu "memohon ampun" dan "berserah diri dalam ketidakpunyaan apa apa", sehingga selalu merespon setiap yg menimpa dengan respon "selayaknya manusia", sebagaimana yg diajarkan Al Quran dan yg di contohkan Rasulullah saw.
Berpikirlah dari sisi keabadian alam akhirat dimana Allah adalah sang pemilik hari pembalasan. Itulah keMaha Adilan sang Pencipta, keMaha Kasih sayangan Allah, tidak ada niat Allah utk menyakiti hambanya. Maka pandanglah segala ketakutan hidup ini dari sisi akhirat, bahwa sang Pemilik menginginkan apa terhadap manusia yg tdk memiliki apa apa.
Terakhir.... Selalu ingatlah bahwa nafas kita saat ini adalah waktu dan kesempatan kita untuk membuktikan "keberserahan diri kita", karena selayaknya itulah sikap manusia yg hakiki dan selayaknya manusia bersikap pada Tuhannya.
Selasa, 04 Oktober 2011
Meninggalkan dunia
Meninggalkan dunia sbg cara pola pikir utk melihat berbagai permasalahan hidup, cara ibadah, dll.
Meninggalkan dunia selalu diiringi dgn dzikir yaitu mohon ampun /istighfar, jangan2 kita salah langka atau salah respon yg tdk sesuai dgn ridho Allah.
Semoga sikap tsb merupakan bentuk implementasi kesabaran seorang hamba yg berserah diri. Dan bentuk amalan yg bisa membawa kita pada keselamatan.
Aamiin
Langganan:
Postingan (Atom)